Senin, 09 Januari 2012

Ma'rifat


2.1 Pengertian Ma’rifat
Dari segi bahasa ma’rifat berasal dari kata arafa, ya’rifu, irfan, ma’rifat yang artinya pengetahuan dan pengalaman.Dan dapat pula berarti pengetahuan tentang rahasia hakikat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi daripada ilmu yang bisa didapati oleh orang-orang pada umumnya.Ma’rifat adalah pengetahuan yang objeknya bukan pada hal-hal yang bersifat dzahir, tetapi lebih mendalam batinnya dengan mengetahui rahasianya.Ma’rifat ialah mengenal atau mengetahui. Yaitu mengenal atau mengetahui akan Allah dengan cara memperhatikan segala hasil ciptaanNya. Yaitu mengenal Allah dengan budi daya, menyerahkan segala potensi akal dan batin.
            Istilah ma’rifah berasal dari kata ‘Al-Ma’rifah”’ yang berarti mengetahui atau mengenal sesuatu.Dan apabila dihubungkan dengan pengalaman Tasawwuf, maka istilah ma’rifah di sini berarti mengenal Allah ketika Sufi mencapai suatu maqam dalam Tasawwuf (Mustofa, 2008).
            Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama Tasawwuf, antara lain (Mustofa, 2008):
a.                   Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawwuf yang mengatakan.“Ma’rifah adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya’.
b.                  Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat Abuth Thayyib A-Samiriy yang mengatakan
“Ma’rifah adalah hadirnya kebenaran Allah (pada sufi)... dalam keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi...”
c.                   Imam Al-Qusyairiy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad bin Abdillah yang mengatakan
“Ma’rifah membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barang siapa yang meningkat ma’rifahnya, maka meningkatkan pula ketenangan.

Dalam teori lain, Ma’rifat diambil dari kata A’rafa, Yu’rifu, Irafan tetapi memiliki makna berbeda, seperti dalam surat al-A’raf  yang berpengertian tempat tertinggi (tempat tertinggi antara Surga dan Neraka), yang akar katanya diturunkan dari ‘Irfan :

$yJåks]÷t/urÒ>$pgÉo4n?tãurÅ$#z÷äF{$#×A%y`Ítbqèù͐÷êtƒDxä.öNà8yJÅ¡Î04(#÷ryŠ$tRur|=»ptõ¾r&Ïp¨Ypgø:$#br&íN»n=yöNä3øn=tæ4óOs9$ydqè=äzôtƒöNèdurtbqãèyJôÜtƒÇÍÏÈ

46.  Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada batas; dan di atas A'raaf[543] itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. dan mereka menyeru penduduk surga: "Salaamun 'alaikum[544]". mereka belum lagi memasukinya, sedang mereka ingin segera (memasukinya).
[543]  Al A'raaf artinya: tempat yang tertinggi di antar surga dan neraka.
[544]  artinya: Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu.

Penjelasan ayat di atas Jalaluddin Rahmat menegaskan secara tekstual bahwa al-Araf adalah dinding  antara surga dan neraka yakni disebelah dalamnya  yang terletak berdekatan dengan surga ada rahmat, dan disebelah luarnya dari situ ada siksa neraka, yang terletak di dekat sisi tersebut. Di atasnya adalah meraka yang perbuatan buruk dan baiknya seimbang pada timbangan (pengadilan) mereka, sehingga meraka melihat ke neraka dengan satu mata mereka dan melihat ke surga dengan mata  yang lain.
Berdasarkan data historis, nilai-nilai Ma’rifat sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW. yang terangkum dalam tingkatan ajaran pokok agama Islam yaitu “Ihsan”, bahkan Nabi pun yang memberikan pengertian tentang arti dari Ihsan bahwa “..Engkau hendaklah beribadat kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, sekiranya engkau tidak melihat-Nya, maka ketahuilah bahawa Dia senantiasa melihatmu… “ . berkaitan dengan pendapat Ibnu ‘Atha’illah yang mengemukakan bahwa Ihsan merupakan penegasan ke-Esaan Tuhan dengan akal, mata, yakin dan kotemplasi.
Para tokoh sufi pada abad ke 3 Hijriyah, yang dipelopori oleh Rabi’ah al-Adawiyah ditanya : “apakah engkau melihat Tuhan yang kau sembah ?” maka Rabi’ah menjawab: “Jika aku tidak melihat-Nya, maka aku tidak akan menyembah-Nya”. Mengenai Ma’rifat Rabi’ah sendiri berkata : “Buah dari ilmu ruhani adalah agar engkau palingkan mukamu dari makhluk agar engkau  dapat memusatkan perhatianmu hanya kepada Allah saja, karena Ma’rifat itu mengenal Allah dengan sebaik-baiknya
Diperkuat lagi oleh  seorang tokoh sufi yang hidup sesudah masa Rabi’ah yaitu Dzu an-Nun al-Mishri mengemukakan bahwa hanya kepada kaum sufi yang sanggup “melihat” Tuhan dengan hati sanubarinya karena kecintaan kepada Tuhan, maka Ma’rifat dimasukkan Tuhan kepada hati seorang sufi tersebut, sehingga hatinya penuh dengan cahaya10. Menurut Dzu an-Nun al-Mishri, Ma’rifat merupakan ahwal (keadaan) yang diperoleh semata-mata kerunia dari Tuhan. Hal ini dipertegas dalam satu ungkapan :

عَرَفْتُ رَبىِّ بِرَبىِّ وَلَوْ لاَ رَبىِّ لَمَّاعَرَفْتُ رَبىِّ
Artinya : “…Aku mengenal Tuhanku melalui Tuhanku, dan sekiranya bukan karena Tuhanku, aku tidak akan mengenal Tuhanku”
Ma’rifat bagi al-Ghazali ialah juga “memandang kepada wajah Allah SWT. Menurut al-Ghazali Ma’rifat dan Mahabbah merupakan setinggi-tingginya tingkat yang dapat dicapai oleh seorang Sufi, pengetahuan yang diperoleh dari Ma’rifat lebih tinggi mutunya dari pada pengetahuan yang diperoleh melalui akal.
Dari beberapa pendapat sufi terdahulu yang dikemukakan diatas, berkembang lagi  pada masa modern seputar abad 20 - 21 dan menjadi pembicaraan di kalangan pemikir Islam sekarang, misalnya menurut Harun Nasution (1919) sebagaimana dengan Mahabbah dan Ma’rifat, bahwa Ma’rifat adalah mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Allah tentang segala yang ada.
Para sufi terdahulu menyebutkan Ma’rifat merupakan Ahwal (keadaan), dan al-Qusyriyah menyebutkan, Ma’rifat merupakan Maqam, juga berlainan urutan yang diberikan kepada Ma’rifat dalam susunan yang terdapat dalam buku-buku Tasawuf.
Sedangkan al-Ghazali dalam Ihya memandang bahwa Ma’rifat datang sesudah Mahabbah, ada juga yang berpendapat bahwa Ma’rifat dan Mahabbah datang secara beriringan dengan kata lain Ma’rifat dan Mahabbah merupakan dua aspek dari hubungan rapat yang ada antara sufi dan Tuhan.
Dengan demikian, pengertian Ma’rifat  dapat disimpulkan bahwa Ma’rifat adalah maqam sekaligus ahwal dalam mengetahui atau mengenal Tuhan melalui tanda-tanda kekuasan-Nya yang berupa makhluk-makhluk Ciptaan-Nya, sehingga ‘arif dapat merasakan kedekatan dengan Tuhan. Dapat diperluas lagi menjadi “cara” mengetahui atau mengenal Tuhan melalaui eksisitensi ciptaan-Nya, kalau mata yang terdapat dalam hati sanubari manusia terbuka, mata kepalanya akan tertutup, dan ketika itu yang dilihatnya adalah Allah. Yang dilihat orang ‘arif baik sewaktu tidur maupun sewaktu bangun hanyalah Allah.
Pengalaman ma’rifah ditonjolkan oleh Dzunnun al Mishri (w. 860 M). Menurutnya, ma’rifah adalah anugerah Allah kepada sufi yang telah dengan ikhlas dan sungguh-sungguh mencintai Tuhan. Karena cinta yang suci dan ikhlas itulah akhirnya Tuhan menyingkapkan tabir dari pandangan sufi. Dengan terbukanya tabir tersebut, akhirnya ia dapat menerima cahaya yang dipancarkan Tuhan, sehingga dapat melihat keindahan yang abadi. Ketika Dzunnun al Mishri ditanya, bagaimana ia memperoleh ma’rifah, ia menjawab, “Aku melihat dan mengetahui Tuhan dengan karunia Tuhan. Sekiranya bukan karena Tuhan aku tidak akan pernah melihat dan tidak tahu Tuhan. Seorang sufi yang dapat menangkap ma’rifah dengan mata hatinya, maka kalbunya akan dipenuhi oleh rasa cinta yang mendalam kepada Tuhan (Syukur, 2002).
Dari beberapa definisi di atas dapat kita fahami bahwa ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia Allah dengan hati sanubari. Tujuan yang ingin dicapai ma’rifat adalah mengetahui rahasia-rahasia yang terdapat dalam diri Tuhan. Sebagaimana dikemukakan al-Kalazabi, ma’rifat datang sesudah mahabbah, hal ini disebabkan karena ma’rifat lebih mengacu pada pengetahuan sedangkan mahabbah menggambarkan kecintaan. Ma’rifat adalah mengetahui atau mengenal rahasia-rahasia Allah dalam sanubari yang ditimbul oleh kecintaan seseorang dengan Allah melebihi apapun yang diciptakan oleh Allah.

2.2 Maksud dari Ma’rifat
Semua yang ada di alam ini mutlak ada dalam kekuasaan Allah. Ketika melihat fenomena alam, idealnya kita bisa ingat kepada Allah. Puncak ilmu adalah mengenal Allah (ma'rifatullah). Kita dikatakan sukses dalam belajar bila dengan belajar itu kita semakin mengenal Allah. Jadi percuma saja sekolah tinggi, luas pengetahuan, gelar prestisius, bila semua itu tidak menjadikan kita makin mengenal Allah. Mengenal Allah adalah aset terbesar. Mengenal Allah akan membuahkan akhlak mulia. Betapa tidak, dengan mengenal Allah kita akan merasa ditatap, didengar, dan diperhatikan selalu. Inilah kenikmatan hidup sebenarnya. Bila demikian, hidup pun jadi terarah, tenang, ringan, dan bahagia. Sebaliknya, saat kita tidak mengenal Allah, hidup kita akan sengsara, terjerumus pada maksiat, tidak tenang dalam hidup, dan sebagainya.
Ciri orang yang ma'rifat adalah laa khaufun 'alaihim wa lahum yahzanuun. Ia tidak takut dan sedih dengan urusan duniawi. Karena itu, kualitas ma'rifat kita dapat diukur. Bila kita selalu cemas dan takut kehilangan dunia, itu tandanya kita belum ma'rifat. Sebab, orang yang ma'rifat itu susah senangnya tidak diukur dari ada tidaknya dunia. Susah dan senangnya diukur dari dekat tidaknya ia dengan Allah. Maka, kita harus mulai bertanya bagaimana agar setiap aktivitas bisa membuat kita semakin kenal, dekat dan taat kepada Allah.
Salah satu ciri orang ma'rifat adalah selalu menjaga kualitas ibadahnya. Terjaganya ibadah akan mendatangkan tujuh keuntungan hidup.
  1. Hidup selalu berada di jalan yang benar (on the right track).
  2. Memiliki kekuatan menghadapi cobaan hidup. Kekuatan tersebut lahir dari terjaganya keimanan. Allah akan mengaruniakan ketenangan dalam hidup. Tenang itu mahal harganya. Ketenangan tidak bisa dibeli dan ia pun tidak bisa dicuri. Apa pun yang kita miliki, tidak akan pernah ternikmati bila kita selalu resah gelisah.
  3. Seorang ahli ibadah akan selalu optimis. Ia optimis karena Allah akan menolong dan mengarahkan kehidupannya. Sikap optimis akan menggerakkan seseorang untuk berbuat. Optimis akan melahirkan harapan. Tidak berarti kekuatan fisik, kekayaan, gelar atau jabatan bila kita tidak memiliki harapan.
  4. Seorang ahli ibadah memiliki kendali dalam hidupnya, bagaikan rem pakem dalam kendaraan. Setiap kali akan melakukan maksiat, Allah SWT akan memberi peringatan agar ia tidak terjerumus. Seorang ahli ibadah akan memiliki kemampuan untuk bertobat.
  5. Selalu ada dalam bimbingan dan pertolongan Allah. Bila pada poin pertama Allah sudah menunjukkan jalan yang tepat, maka pada poin ini kita akan dituntun untuk melewati jalan tersebut.  seorang ahli ibadah akan memiliki kekuatan ruhiyah, tak heran bila kata-katanya bertenaga, penuh hikmah, berwibawa dan setiap keputusan yang diambilnya selalu tepat.
  6. Apabila kamu dibukakan pintu ma’rifat yang hakiki maka janganlah kamu hiraukan amalmu yang sedikit. Sebab di atas telah diterangkan bahwa ma’rifat itu adalah anugerah dari Allah yang datangnya tidak menggantungkan akan banyak atau sedikitnya amal kebaikan.
Ma’rifat adalah anugerah Allah yang didasari kasih Tuhan kepada hamba-Nya. Adapun amal ibadah sebagai persembahan hamba kepada Tuhannya. Dimisalkan; anugerah itu seperti martabat seorang budak yang diangkat oleh raja menjadi perdana menteri. Adapun amal ibadah seumpama upeti rakyat kepada rajanya. Maka betapa sangat jauh perbedaan antara keduanya. Sesungguhnya maksud dan tujuan kebanyakan manusia memperbanyak amal kebaikan itu adalah agar mereka dapat mendekatkan (Taqarrub) dirinya kepada Allah dengan amal itu. Tetapi perlu disadari bahwa itu tidak akan berubah maksudnya karena banyak atau sedikitnya amal seorang hamba.
Orang yang berma’rifat kepada Allah selalu mengesakan Allah, memuliakan dan mengutamakan Allah, selalu mendekatkan diri pada Allah walaupun susah payah untuk menyingkirkan rintangan-rintangan di jalan menuju Allah. Begitu juga dalam pandangan mata hatinya, seluruhnya tertuju kepada suatu kekuasaan Allah SWT. Orang yang berma’rifat kepada Allah, orang yang dirinya selalu merasa diawasi dan disaksikan oleh Allah, selalu berusaha keras untuk membersihkan hatinya dari debu-debu ma’siat, ingkar pada Tuhan dan perang terhadap sifat-sifat tercela, yang menghinggap di hati manusia yang sering membinasakan pribadi manusia (Labib dan Ahnan, 1985).
Kemampuan manusia untuk melakukan Ma’rifat Allah menciptakan manusia dengan sempurna yaitu diberikannya bentuk tubuh yang baik, akal pikiran dan nafsu, kemudian manusia itu sendiri yang menentukan mampu atau tidaknya menggunakan pemberian Allahdengan baik (QS.Attin: 4-5).
ôs)s9$uZø)n=y{z`»|¡SM}$#þÎûÇ`|¡ômr&5OƒÈqø)s?ÇÍÈ¢OèOçm»tR÷ŠyŠuŸ@xÿór&tû,Î#Ïÿ»yÇÎÈ
4.  Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5.  Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),

2.3Tingkatan Ma'rifat

            Adapun tingkatan mengenai Ma’rifat dalam Tasawuf, Dzunnun al-Misri mengklasifikasikannya kedalam tiga tingkatan  yaitu : Ma’rifah awam, Ma’rifat ulama dan Ma’rifah sufi.

1)      Ma’rifat orang Awam,
Yaitu mengetahui Tuhan dengan perantaraan ucapan Syahadat. Ucapan syahadat dapat juga disebut Syahadatain (dua kalimat Syahadat), kesaksian atau pengakuan, yang dalam hal ini adalah (a) Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah; ini disebut Syahadat tauhid. (b) Bersaksi bahwa Nabi Mauhammad adalah untusan Allah kepada sekalian manusia; ini disebut Syahadat Rasul. Sedangkan bunyi dua kalimat Syahadat yang dimaksudkan adalah sebagai berikut :
اَشْهَدُ اَنْ لاَ ِالَهَاِلاَّ اللهُ . وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْ لُاللهِ
Artinya : “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, dan aku bersaksi bahwasannya Muhammad itu adalah utusan-Nya”
al-Ghazali berpendapat bahwa menyakini “Tiada Tuhan selain Allah” merupakan i’tikad yang harus ditanamkan dalam jiwa, dan tidak mengikuti ajaran siapapun kecuali yang datangnya dari Muhammad SAW. Seseorang yang telah mengucapakan dua kalimat syahadat itu, berarti ia telah melakukan sumpah setia dihadapan Allah, bahwa hanya Dia sajalah yang disembahnya, dan bahwa Nabi Muhammad sajalah yang menjadi panutan hidupnya.
Pengucapan dua kalimat Syahadat ini merupakan syarat utama untuk memasuki agama Islam dan merupakan kesaksian yang pundamental (mendasar) bagi umat muslim pada khususnnya, Sebab dengan pengikraran itu, ia telah menyatakan dengan tegas untuk tidak menyembah apapun kecuali Allah semata.

1.        Ma’rifat Ulama,
Yaitu mengetahui Tuhan dengan logika atau akal. Dalam tingkatan kedua ini dapat disebut Ma’rifat para teologi (mutakalimiin), seperti Mu’tazilah, Asy-Ariyah, Qodariyah, Syi’ah, Khawarij, Murji’ah, dimana para teolog tersebut mengenal Tuhan lewat logika atau akal, baik dalam bidang Islam yang tekstual maupun kontekstual.
2.        Ma’rifat Sufi,
Yaitu mengetahui Tuhan dengan perantaraan hati sanubari. dalam istlah Ibnu ‘Atha’illah disebut sebagai ‘ain bashirah dan haqqul bashirah atau dalam istlah al-Qusyairiyah disebut ‘ainul yaqiin dan Haqqul yaqiin.
Dalam hal ini Al-Junaid telah berkata bahwa : “sesungguhnya awal yang dibutuhkan oleh manusia dari sesuatu yang bersifat hikmah adalah mengetahui sang Pencipta atas keterciptaannya, kebaruan diri tentang bagaimana kebaruannya, sifat keperbedaan, “Dzat lama dari Dzat yang baru” (alam), menurut pada ajakan-Nya, dan mengetahui keharusan diri untuk taat kepada-Nya. Sesungguhnya orang yang belum mengetahui Dzat -Sang penguasa alam-, maka ia tidak akan mengetahui keberadaan kerajaan alam tentang status kepemilkikannya itu untuk siapa”, dan disini al-Junaid masih memberikan komentarnya bahwa seorang ahli Ma’rifat itu membatasi tingkah lakunya dalam empat perkara :
  1. Orang ahli Ma’rifat mengenal Allah, sehingga ia telah berkomunikasi langsung antara dia dengan Tuhan tanpa perantara.
  2. Dasar hidup dan kehidupannya mengikuti Sunnah Rasul, meninggalkan akhlak yang rendah dan hina
  3. Mengikuti hawa nafsu yang telah diajarkan Allah dalam alqur’an
  4. Merasa dirinya milik Tuhan  dan kepada-Nya ia akan kembali.
Dalam litelatur tasawuf yang lain arif (orang yang berma’rifat) terbagi kedalam beberapa tingkatan dan cara yang berbeda, tingkatan dan cara tersebut antara lain :
  1. Diantara mereka (arif) ada yang mengenal Allah dengan kudrat-Nya, lalu dia merasa takut kepada-Nya.
  2. Diantara mereka (arif) ada yang mengenal Allah dengan muraqabah (mengawas diri), lalu dia merasa yakin akan kebenaran itu.
  3. Diantara mereka (arif) ada yang mengenal Allah dengan kifayah (menjamin segala keperluan hamba-Nya dan memberikannya), lalu dia menunjukan kefakiran kepadanya.
  4. Diantara mereka (arif) ada yang mengenal Allah dengan sifat keeasaan-Nya, lalu dia bergantung kepada sifat kesucian-Nya.
  5. Diantara mereka (arif) ada yang mengenal Allah dengan sifat ketuhanan-Nya, lalu dia berpegang pada pertalian dirinya dengan Allah. Ilmu tasawuf meringkas jalan Ma’rifat berdasarkan hadits Rasulullah SAW :
“Barang siapa mengenal dirinya, niscaya ia akan mengenal Tuhannya”.

2.4 Mengenal Diri Sendiri
Mengenal diri ialah mengetahui diri itu tersusun dari dari bentuk-bentuk lahir (yang disebut badan atau jasad) dan bentuk-bentuk batin (yang disebut qalbu dan jiwa). Yang dimaksud dengan qalbu itu bukanlah segumpal daging yang berada disebelah kiri badan  di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah ruh suci dan berpengaruh dalam tubuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan, dialah hakikat insan (yang dinamakan diri yang sebenarnya, dialah yang bertanggungjawab dan dialah dipuji dan disiksa oleh Allah SWT.
Langkah pertama untuk mengenal diri sendiri ialah mengetahui diri itu tersusun dari bentuk-bentuk bathin (yang disebut qalbu atau jiwa). Yang dimaksud dengan qalbu itu bukanlah yang segumpal daging yang berada disebelah kiri badan di bawah susu (yang dikatakan jantung). Tetapi dialah Roh suci dan berpengaruh dalam tumbuh dan dialah yang mengatur jasmani dan segenap anggota badan.Dialah hakekat insan (yang dinamakan diri yang sebenarknya diri).Dialah yang bertanggung jawab dan dialah dipuji atau disiksa oleh Allah.Untuk meneliti dan mengenal diri sendiri itu, maka jasad  dapat dimisalkan suatu kerajaan. Dan roh sebagai Rajanya yang berkuasa dan dialah yang mengatur jasmani.Adapun jasmani adalah sebagai kerajaan dalam bentuk Alamuasyahadah atau Alam nyata. Seluruh badan jasmani akan  hancur binasa setelah mati, ia tetap tinggal dalam ilmu Allah. Dan adapun  Rohani/Jiwa adalah sebagai Raja dalam bentuk Allh ghaib, maksudnya bahwa Roh/Jiwa itu adalah ghaib, ia keadaannya tidak terpisah-pisah, tidak terbatas oleh waktu dan ruang, tidak tentu  tempatnya dalam sesuatu bagian tubuh, oleh kare na itu maka setiap orang memerintahkan atas kerajaan kecil dalam dirinya maka setiap orang memerintahkan atas kerajaan kecil dalam dirinya sendiri. Sungguh benar sekali istilah yang menyebutkan bahwa ‘manusia itu adalah mikrosmos’ atau dunia kecil dalam dirinya sendiri (Zahri, 1973).
Sebagian oarng berpendapat bahwa hakekat qalbu atau Roh itu dapat dicapai oleh seseorang dengan memejamkan kedua matanya serta melupakan segalanya yang ada di sekitarnya, kecuali peribadinya. Dengan cara begitu akan dapatjuga  kilauan  dari alam abadi kepada peribadinya (dalam mengenal dirinya). Tetapi bagaimanapun juga segala pertanyaan yang mendalam tentang hakekat Roh yang sesungguhnya, tidak di-izinkan oleh Allah Yang Maha Esa (Zahri, 1973).
Apabila seseorang bertafakkur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahwa dirinya itu pada masa dahulunya itu, “ tidak pernah ada”

Firman Allah : “ tidaklah manusia itu ingat bahwa kami menjadikannya dahulunya sedang ia belum ada suatu apapun



Kemudian manusia itu akan mengetahui bahwa ia sebenarnya dijadikan dari setetes air (mani) yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya .Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahwa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, karena sehelai rambutpun manusia itu tak akan sanggup membutanya (Zahri, 1973).
Apabila seseorang bertafakur atas dirinya sendiri, maka ia akan dapat mengetahui bahwa dirinya itu pada masa dahulunya itu, “tidak pernah ada”. Kemudian manusia itu akan mengetahui bahwa ia sebenarnya dijadikan dari setetes air mani yang tidak mempunyai akal sedikitpun, tidak mempunyai pendengaran, penglihatan, kaki, tangan, kepala dan sebagainya. Dari sinilah manusia akan mengetahui dengan terang dan nyata, bahwa tingkat kesempurnaan yang ia dapat capai bukanlah ia yang membuatnya, karena sehelai rambut pun manusia itu tak sanggup membuatnya.
Dengan jalan tersebut manusia itu akan dapat menemukan dirinya dalam kejadian-kejadian yang sangtat kecil bila dibandingkan dengan kekuasaan dan kasih sayang Tuhan. Dan apabila manusia itu berfikir jauh maka ternyata ia di dalam kehidupannya akan mengajarkan berbagai macam keperluan seperti : makan, minum, perumahan yang kesemua itu sudah tersedia di muka bumi ini dan dari sini manusia sadar akan kebesaran kasih sayang Tuhan. Oleh karena kejadian-kejadian rangka jasad sebagai bukti kekuasaan-Nya, maka manusia akan mengetahui bahwa Tuhan itu “ADA”. Oleh karena itu benar-benar bahwa dengan penelitian dan pengenalan diri sendiri akan mejadi kunci bagi pengenalan Tuhan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar