Minggu, 07 Oktober 2012

Hadits Dhaif dan Kehujjahannya


BAB I
PENDAHULUAN
1.1              Latar Belakang
Seperti telah diketahui sebelumnya, bahwa istilah lain dari hadits adalah khobar. Khobar dapat berarti berita, yang mempunyai sifat bisa benar dan juga bisa salah. Hadits dibagi menjadi tiga yaitu, hadits shohih, hadits hasan, dan hadits dhaif. Hadits shohih menurut istilah adalah hadits yang muttasil (bersambung) sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tidak syadz dan tidak pula terdapat ’illat (cacat) yang merusak. Hadits hasan adalah hadis yang muttasil sanadnya, diriwayatkan oleh rawi yang adil dan dhabit, tetapi kedhabitannya di bawah  kedhabitan hadis shahih, dan hadis itu tidak syadz dan tidak pula terdapat ’illat (cacat). Hadis dhaif  yaitu hadis yang tidak memenuhi kriteria hadis hasan, hadis yang didalamnya tidak didapati syarat hadis shahih dan tidak pula didapati syarat hadis hasan. Karena syarat diterimanya suatu hadis sangat banyak sekali, sedangkan lemahnya hadis terletak pada hilangnya salah satu syarat tersebut atau bahkan lebih, maka atas dasar ini hadis dhaif terbagi menjadi beberapa macam, seperti Syadz, Mudhtharib, Maqlub, Mu’allal, Munqathi’, Mu’dhal, dan lain sebagainya.

KLASIFIKASI HADIST DARI SEGI KUANTITAS SANADNYA


BAB I
Pendahuluan

1.1. Latar belakang.
Hadits atau yang disebut dengan sunnah, adalah segala sesuatu yang bersumber atau disandarkan kepada Nabi Muhammad SAW, baik berupa perkataan, perbuatan atau taqrirnya. Sebagai sumber ajaran Islam setelah Al-Qur'an, sejarah perjalanan Hadits tidak terpisahkan dari sejarah perjalanan Islam itu sendiri. Akan tetapi, dalam beberapa hal terdapat ciri-ciri tertentu yang spesifik, sehingga dalam mempelajarinya diperlukan pendekatan khusus.
Hadis dapat disebut sumber hukum Islam ke-dua setelah Al-Qur’an karena, hadis diriwayatkan oleh para perawi dengan sangat hati-hati dan teliti, sebagaimana sabda Nabi s.a.w. :
من كذ ب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النا ر
“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, maka tempatnya dalam neraka disediakan”

Pembagian Hadits dari Segi Kualitas


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Al-Hadits merupakan sumber hukum utama sesudah al-Qur’an.Keberadaan al-Hadits merupakan realitas nyata dari ajaran Islam yang terkandung dalam al-Quran. Hal ini karena tugas Rasul adalah sebagai pembawa risalah dan sekaligus menjelaskan apa yang terkandung dalam risalah yakni al-Quran. Sedangkan al-Hadits, hakikatnya tak lain adalah penjelasan dan praktek dari ajaran al-Quran itu sendiri.
Kendati demikian, keberadaan al-Hadits dalam proses kodifikasinya sangat berbeda dengan al-Quran yang sejak awal mendapat perhatian secara khusus baik dari Rasulullah saw maupun para sahabat berkaitan dengan penulisannya. Bahkan al-Qur'an telah secara resmi dikodifikasikan sejak masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq yang dilanjutkan dengan Utsman bin Affan yang merupakan waktu yang relatif dekat dengan masa Rasulullah.