Minggu, 06 Mei 2012

Ahwal Dalam Tasawuf


BAB I
PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang
Pada dasarnya setiap ilmu pengetahuan satu dan lainnya saling berhubungan. Namun hubungan tersebut ada yang sifatnya berdekatan, yang pertengahan, dan ada pula yang agak jauh.
Secara harfiah terdapat beberapa penafsiran tentang arti istilah sufi. Di antara penafsiran itu antara lain menyebutkan bahwa kata sufi bermula dari kata safa (suci hati dan perbuatan), saff (barisan terdepan di hadapan Tuhan), suffah (menyamai sifat para sahabat yang menghuni serambi masjid nabawi di masa kenabian), saufanah (sejenis buah/buahan yang tumbuh di padang pasir), safwah (yang terpilih atau terbaik), dan bani sufah (kabilah badui yang tinggal dekat ka’bah di masa jahiliyah.
Selain itu seseorang yang menuntut ilmu pengetahuan haruslah mempunyai jiwa yang baik sehingga dapat menerima ilmu dengan baik pula. Contohnya kita tidaklah boleh selalu merasa senang, sedih, takut dan sebagainya, jadi keadaan jiwa kita haruslah stabil. Dalam hal ini disebut ahwal, dalam pengertian lain ahwal adalah situasi kejiwaan yang yang diperoleh seorang sufi sebagai karunia dari Allah SWT, bukan dari hasil usahanya sendiri.  Memperbaiki budi pekerti dan membersihkan jiwa hanyalah bisa dilakukan dengan semata-mata mengikuti sunnah nabi dimana berkat mengikuti sunnah nabi dan meneladaninya akan membuahkan hasil berupa ahwal yang baik.


1.2              Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan maka rumusan masalah dalam penulisan ini adalah :
1.      Apa yang dimaksud dengan karakteristik atau ahwal sufi?
2.      Apa sajakah karakteristik sufi dalam keilmuan tasawuf?

1.3              Tujuan
Tujuan  penulisan ini diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Mengetahui karakteristik sufi
2.      Kita bisa memahami karakteristik dalam tasawuf


































BAB II
PEMBAHASAN

2.1        Ahwal
Ahwal adalah bentuk jamak dari “Hal” yang berarti keadaan mental seperti perasaan senang, sedih, takut dan sebagainya. Hal yang biasa disebut Ahwal  ialah takut( Khauf) rendah hati (al-Tawadlu) patuh(taqwa) ikhlas (al-ikhlas) rasa berteman al-Uns) gembira hati( Al-Wajd) berterima kasih ( Al-Syukr). Raja’ , syauq dan mahabbah. Hal sangat berlainan dengan maqam, karena maqam sebagai proses untuk mendekatkan diri kepada  tuhan dengan cara perjuangan melawan hawa nafsunya yang sangat terjal, sedangkan ahwal merupakan sebuah fadhal (keutamaan) yang diberikan tuhan dengan cara spontan tanpa adanya proses. Imam al-Ghazali mengatakan apabila seseorang sudah menetap dalam suatu maqam maka ia akan memperoleh perasaan tertentu, itulah yang disebut Ahwal.
Telah disebutkan diatas bahwa penjelasan mengenai perbedaan maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut: Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan. Didalam kenyataannya para Salik memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Lebih lanjut kaum sufi mengatakan bahwa hal adalah anugerah dan maqam adalah perolehan (kasb). Tidak ada maqam yang tidak dimasuki hal dan tidak ada hal yang terpisah dari maqam.[1]
Beberapa ulama mengatakan bahwa hal adalah sesuatu yang tidak diam dan tidak mengikat (dinamis). Al-Gazali dalam memberi pandangan yang menyatakan bahwa apabila seseorang telah mantap dan tetap dalam suatu maqam, ia akan memperoleh suatu perasaan tertentu dan itulah hal. Mengenai hal ini ia juga memberi contoh tentang warna kuning yang dapat dibagi menjadi dua bagian, ada warna kuning yang tetap seperti warna kuning pada emas dan warna kuning yang dapat berubah seperti pada sakit kuning. Seperti itulah kondisi atau hal seseorang. Kondisi atau sifat yang tetap dinamakan maqam sedangkan yang sifatnya berubah dinamakan hal. Menurut Syihabuddin Suhrawardi seseorang tidak mungkin naik ke maqam yang lebih tinggi sebelum memperbaiki maqam sebelumnya. Namun, sebelum beranjak naik, dari maqam yang lebih tinggi turunlah hal yang dengan itu maqamnya menjadi kenyataan.[2] Oleh karena itu, kenaikan seorang salik dari satu maqam ke maqam berikutnya disebabkan oleh kekuasaan Allah dan anugerahNya, bukan disebabkan oleh usahanya sendiri. pernyataan diatas memberikan pemahaman bahwa maqam bersifat lebih permanent keberadaannya pada diri sang salik daripada hal. Selain itu, maqamat lebih merupakan hasil upaya aktif para salik, sedangkan ahwal merupakan anugerah atau uluran Allah yang sifatnya pasif.
Dalam pembicaraan tentang tarekat sebagai perjalanan spiritual kita tidak bisa mengabaikan dua istilah teknis yang sangat penting. Yaitu: “Maqamat dan ahwal” . Adapun “ahwal” bentuk jamak dari “hal” biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang di alami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.
Sekalipun sama-sama di alami dan di capai selama masa perjalanan spiritual seorang sufi menuju tuhannya. Namun menurut para sufi ada perbedaan yang mendasar antara “maqamat” dan “ahwal” ini baik dari cara mendapatkannya maupun kelangsungannya.  “Ahwal” sering di peroleh secara spontan sebagai hadiah dari tuhan. Diantara “ahwal” yang sering di sebut adalah takut, syukur, rendah hati, taqwa, ikhlas, gembira. Meskipun ada perdebatan di antara para penulis tasawuf, namun ke banyakan mereka mengatakan bahwa “ahwal” di alami secara spontan dan berlangsung sebentar dan di peroleh tidak berdasarkan usaha sadar dan perjuangan keras, seperti halnya pada “maqamat” melainkan sebagai hadiah berupa kilatan-0kilatan ilahi (Divine Flashes), yang biasa di sebut “lama’at”.
Selain soal cara memperoleh dan sifat keberlangsungannya, saya juga merasa penting untuk menyinggung sifat pengalaman para sufi dalam pengalaman spiritualnya menuju tuhan, yang pada gilirannya akan mempengaruhi jumlah maqamat dan susunannya.
Demikian jika kalau kita baca naskah-naskah sufi ada yang mengatakan bahwa ridha misalnya sebagai “maqam” (al-Kalabadzi, al-Ghazali dan Qusyairi), ada juga yang mengganggap sebagai “akhwal”, seperti yang diyakini misalnya, oleh Abu Utsman al-Hiri. Selain pelangsungan dalam “ahwal” ada yang mengatakan bahwa “beberapa ahwal adalah seperti kilatan. Kalau itu dikatakan menetap maka menurut seorang guru Al-Qusyari, itu sekedar omongan nafsu”. Tetapi di pihak lain, Abu Utsman al-Hiri justru mengatakan, “Jika hal tidak abadai dan tidak terdelegasikan, maka iti hanyalah kilatan dan pelakunya tidak sampai pada hal yang sebenarnya. Hanya apabila sifat tersebut menetap, maka itulah yang dinamakan hal. Bagi saya perbedaan persepsi terhadap baik maqamat maupun ahwal adalah akibat pengalaman subyektif masing-masing sufi dalam perjalanan spiritualnya. Tidak ubahnya seperti serombongan turis yang mengunjungi sebuah kota juga akan memiliki persepsi dan diskripsi yang berbeda tentang kota itu. Pebedaan-perbedaan itu sama sekali tidak berarti bahwa pengalaman mereka itu halusinasi atau palsu dan menunjukkan ketidakobjektifan dunia yang mereka alami, dengan alasan yang sama bahwa kita tidak bisa begitu saja menolak realitas “kota” yang dikunjungi para turis hanya karena perbedaan yang terdapat dalam laporan masing-masing anggota rombongan tersebut tentang kota yang mereka kunjungi. Jadi, pengalaman spiritual para sufi bisa subjektif tetapi dunia sufi yang mereka alami tetaplah objektif dan real.
2.2        Macam-macam karakteristik sufi

2.2.1 Muraqabah[3]
Muraabah adalah belajar menetapkan hati, melatih jiwa dan hati untuk ingat kepada Allah dan selalu memperhambakan diri kepada Allah sehingga dengan sendirinya ia akan merasa selalu dalam pengawasan Allah SWT. Berarti dirinya sudah memasuki alam muraqabah.
Muraqabah sebagai salah satu ajaran tasawuf yang bertujuan memantapkan segi hakikat untuk mencapai ma’rifat billah[4], menurut kaum shufi adalah keadaan seseorang meyakini sepenuh hati bahwa Allah selalu melihat dan mengawasi kita. Tuhan mengetahui seluruh gerak-gerik kita dan bahkan apa saja yang terlintas dalam hati kita. Menurut Al-Qusyairi “muraqabah adalah bahwa hamba tahu sepenuhnya bahwa Tuhan selalu melihatnya”. Sedangkan menurut para ahli tasawuf “Barang siapa yang meraqabah dengan Allah dalam hatinya, maka Allah akan memeliharanya dari berbuat dosa pada anggota tubuh”.
Perkataan shufi ini dimaksudkan, bahwa orang yang selalu muraqabah dengan Allah, pasti ia tidak akan mengerjakan dosa lagi, karena Tuhan telah menjauhkan ia dari peruatan dosa. Berlainan dengan orang munafik, ia takut diawasi dan diintai orang lain. Jadi kalau tidak dilihat orang maka beranilah ia membuat dosa disetiap kesempatan.
Muraqabah menurut para ahli shufi ada tiga tingkatan sebagaimana yang disebutkan oleh Syaikh Ahmad al Husni dalam kitab Iqadhul Himam, yaitu :
1. Muraqabah Qalbi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap hati, agar tidak keluar kehadiranya dengan Allah.
2. Muraqabatur Ruhi, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap ruh, agar selalu merasa dalam pengawasan dan pengintaian Allah.
3. Muraqabatus sirri, yaitu kewaspadaan dan peringatan terhadap Sir/rahasia, agar selalu meningkatkan amal ibadahnya dan memperbaiki adabnya.
Sedangkan cara bermuraqabah dengan Allah bisa di tempuh dengan berbagai macam jalan, diantaranya :
a.       Sesudah sembahyang tahajud ditengah malam dan sebelum shubuh datang menjelang, duduk dengan kaifiyat iftiraasy, dengan sadar dan penuh kesungguhan mengkonsentrasi , menyatukan fikiran sambil berzikir, menunggu saat beraudensi dengan Tuhan maha pengasih lagi maha penyayang.
b.      Sesudah berwudhu duduk dengan pakaian bersih, duduk menekur dilantai masjid sambil berzikir dengan lisan menunggu saatnya berhadapan dengan Tuhan dengan dzauq dan bashirah.
Dari sini, maka sebaiknya janganlah berpikir apakah Allah dekat dengan kita, melainkan usahakanlah agar kita dekat dengan Allah atau mendekatkan diri kepada Allah.

2.2.2 Al-Khauf [5]
Khauf  adalah rasa sakit serta bergetarnya hati karena ada sesuatu yang dibenci dihadapannya. Perumpamaannya seperti jika seseorang yang akan dihukum pancung oleh raja, lalu raja itu telah memerintahkan algojonya dan algojo itu telah memegang pedangnya, maka ia telah merasa yakin akan kematiannya sebentar lagi, maka terasalah pedih hatinya saat itu dan bergetar karena rasa takut yang sangat, dan inilah yang disebut Khauf.
Menurut al-Qusyairi, takut kepada Allah berarti takut terhadap hukumnya. Al-khauf adalah suatu sikap mental merasa takut kepada Allah karena kurang sempurna pengabdiannya atau rasa takut dan khawatir jangan sampai Allah merasa tidak senang kepadanya. Ibn Qayyim memandang khauf sebagai perasaan bersalah dalam setiap tarikan nafas. Perasaan bersalah dan adanya ketakutan dalam hati inilah yang menyebabkan orang lari menuju Allah
Khauf ini dapat menjadi kuat dan lemah tergantung pada keyakinan seseorang pada ALLAH SWT. Dan selain Khauf yang disebabkan takut pada hukuman sebagaimana diatas, ada pula Khauf yang disebabkan oleh karena takut akan kebesaran dan keagungan sesuatu. Jika manusia itu memahami begitu banyaknya maksiatnya yang akan dihadapkan pada ke-Maha Agungan ALLAH SWT dan ketidakbutuhan-NYA pada kita, maka akan timbullah rasa takut. Maka orang yang paling tinggi Khauf-nya adalah yang paling mengetahui dirinya dan penciptanya, firman ALLAH SWT :
“Sesungguhnya hanyalah yang paling takut pada ALLAH diantara hambanya adalah para ‘ulama’.” (QS. Faathir: 28)
Dampak dari Khauf yang benar adalah jika seseorang sudah benar pemahamannya, maka mulailah rasa Khauf masuk dihatinya dan berdampak pada pucatnya wajah, tangis, gemetar, dan dampaknya kemudian adalah meninggalkan maksiat, lalu komitmen dalam ketaatan, lalu bersungguh-sungguh dalam beramal.
Khauf ada yang berlebihan, moderat dan kurang. Yang berlebihan adalah yang mengakibatkan rasa putus asa dan berpaling dari taat, sementara yang kurang akan mengakibatkan tidak meninggalkan maksiat yang dilakukan. Sementara yang seimbang/moderat (I’tidaal) akan menimbulkan waspada, hati-hati (wara’), takwa, mujahadah, fikir, dzikir, kesehatan fisik dan kebersihan akal.
Khauf para salafus sholih bermacam-macam, ada yang takut meninggal sebelum bertaubat, ada yang takut dicoba dengan nikmat, ada yang takut bergeser dari istiqomah, ada yang takut su’ul khotimah, ada yang takut dahsyatnya berdiri dihadapan ALLAH SWT, ada yang takut dihijab tidak bisa melihat wajah ALLAH SWT, dan inilah takutnya para ‘aarifiin sementara yang sebelumnya adalah takutnya para zaahidiin dan ‘aabidiin. Para aarifiin ini takutnya murni kepada kehebatan dan keagungan ALLAH, sebagaimana firman-NYA:
“Dan ALLAH mempertakuti kamu dengan diri-NYA.” (QS ‘Aali Imraan 3/30)
Diantara mereka ada Abu Darda’ ra yang berkata: “Tak seorangpun yang merasa aman dari pengacauan syaithan terhadap imannya saat kematiannya.” Dan Sufyan ats-Tsauriy saat wafatnya menangis, maka berkata seseorang: “Ya Aba Abdullah! Apa anda punya banyak dosa?” Maka Sufyan mengambil segenggam tanah dan berkata: “Demi ALLAH dosaku lebih ringan dari ini, tetapi aku takut dikacaukan imanku sebelum kematianku.” Ada pula seorang Nabi yang mengadukan kelaparan dan kekurangan pakaiannya kepada ALLAH SWT, maka ALLAH SWT mewahyukan padanya: “Wahai hambaku, apakah engkau tidak ridha bahwa aku telah melindungi hatimu dari kekafiran selama-lamanya sehingga engkau meminta dunia kepada-KU?” Maka Nabi tadi mengambil segenggam tanah lalu menaburkannya diatas kepalanya (karena rasa syukurnya) sambil berkata: “Demi ALLAH, aku telah ridha ya ALLAH, maka lindungilah aku dari kekafiran.”
Keutamaan Khauf disebutkan dalam hadits Nabi SAW: “Berfirman Allah SWT: Demi Keagungan dan Kekuasaan-KU tidak mungkin berkumpul 2 rasa takut dalam diri hambaku dan tidak akan berkumpul 2 rasa aman. Jika ia merasa aman pada-KU di dunia maka akan aku buat takut ia di hari kiamat, dan jika ia takut pada-KU di dunia maka akan aman ia di akhirat.” (HR Ibnu Hibban 2494)
1.   Takutnya para Malaikat : “Mereka merasa takut kepada Rabb-nya, dan mereka melakukan apa-apa yang diperintahkan ALLAH.” (QS An-Nahl 16/50).
2.   Takutnya Nabi SAW. “Bahwa Nabi SAW jika melihat mendung ataupun angin maka segera berubah pucat wajahnya. Berkata A’isyah ra: “Ya Rasulullah, orang-orang jika melihat mendung dan angin bergembira karena akan datangnya hujan, maka mengapa anda cemas?” Jawab beliau SAW: “Wahai A’isyah, saya tidak dapat lagi merasa aman dari azab, bukankah kaum sebelum kita ada yang diazab dengan angin dan awan mendung, dan ketika mereka melihatnya mereka berkata: Inilah hujan yang akan menyuburkan kita.” (HR Bukhari 6/167 dan Muslim 3/26) Dan dalam hadits lain disebutkan bahwa Nabi SAW jika sedang shalat terdengar didadanya suara desis seperti air mendidih dalam tungku, karena tangisnya.
3.   Khauf-nya shahabat ra. Abubakar ra sering berkata: “Seandainya saya hanyalah buah pohon yang dimakan.” Umar ra sering berkata: “Seandainya aku tidak pernah diciptakan, seandainya ibuku tidak melahirkanku.” Abu ‘Ubaidah ibnal Jarraah ra berkata: “Seandainya aku seekor kambing yang disembelih keluargaku lalu mereka memakan habis dagingku.” Berkata Imraan bin Hushain ra: “Seandainya  aku menjadi debu yang tertiup angin kencang.”
4.   Khauf-nya Tabi’iin. Ali bin Husein jika berwudhu untuk shalat pucat wajahnya, maka ditanyakan orang mengapa demikian? Jawabnya: “Tahukah kalian kepada siapa saya akan menghadap?” Berkata Ibrahiim bin ‘Iisa as Syukriy: “Datang padaku seorang lelaki dari Bahrain ke dalam mesjid saat orang-orang sudah pergi, lalu kami bercerita tentang akhirat dan dzikrul maut, tiba-tiba orang itu demikian takutnya sampai menghembuskan nafas terakhir saat itu juga.” Berkata Misma’: “Saya menyaksikan sendiri mau’izhoh Abdul Waahid bin Zaid disuatu majlis, maka wafat 40 orang saat itu juga dimajlis itu setelah mendengar ceramahnya.” Berkata Yaziid bin Mursyid: “Demi ALLAH seandainya Rabb-ku menyatakan akan memenjarakanku dalam sebuah ruangan selama-lamanya maka sudah pasti aku akan menangis selamanya, maka bagaimanakah jika ia mengancamku akan memenjarakanku didalam api?!”

Demikianlah Khauf para Malaikat, Nabi-nabi, ulama dan auliya’, maka kita lebih pantas untuk takut dibanding mereka. Mereka takut bukan karena dosa, melainkan karena kesucian hati dan kesempurnaan ma’rifah, sementara kita telah dikalahkan oleh kekerasan hati dan kebodohan. Hati yang bersih akan bergetar karena sentuhan kecil, sementara hati yang kotor tak berguna baginya nasihat dan ancaman.



2.2.3 Al-Raja’
Raja' adalah sikap mengharap dan menanti-nanti sesuatu yang sangat dicintai oleh si penanti. Sikap ini bukan sembarang menanti tanpa memenuhi syarat-syarat tertentu, sebab penantian tanpa memenuhi syarat ini disebut berangan-angan (tamniyyan). Orang-orang yang menanti ampunan dan rahmat ALLAH tanpa amal bukanlah Raja' namanya, tetapi berangan-angan kosong.
Ketahuilah bahwa hati itu sering tergoda oleh dunia, sebagaimana bumi yang gersang yang mengharap turunnya hujan. Jika diibaratkan, maka hati ibarat tanah, keyakinan seseorang ibarat benihnya, kerja/amal seseorang adalah pengairan dan perawatannya, sementara hari akhirat adalah hari saat panennya. Seseorang tidak akan memanen kecuali sesuai dengan benih yang ia tanam, apakah tanaman itu padi atau semak berduri ia akan mendapat hasilnya kelak, dan subur atau tidaknya berbagai tanaman itu tergantung pada bagaimana ia mengairi dan merawatnya.
Dengan mengambil perumpamaan di atas, maka Raja' seseorang atas ampunan ALLAH adalah sebagaimana sikap penantian sang petani terhadap hasil tanamannya, yang telah ia pilih tanahnya yang terbaik, lalu ia taburi benih yang terbaik pula, kemudian diairinya dengan jumlah yang tepat, dan dibersihkannya dari berbagai tanaman pengganggu setiap hari, sampai waktu yang sesuai untuk dipanen. Maka penantiannya inilah yang disebut Raja'.
Sedangkan petani yang datang pada sebidang tanah gersang lalu melemparkan sembarang benih kemudian duduk bersantai-santai menunggu tanpa merawat serta mengairinya, maka hal ini bukanlah Raja' melainkan bodoh (hamqan) dan tertipu (ghuruur). Berkata Imam Ali ra tentang hal ini:
"Iman itu bukanlah angan-angan ataupun khayalan melainkan apa-apa yang menghunjam di dalam hati dan dibenarkan dalam perbuatannya."
            Raja’ atau harapan menurut Al Qusyairi adalah keterpautan hati kepada sesuatu yang diinginkannya terjadi di masa yang akan datang, seperti halnya takut juga berkaitan dengan apa yang akan terjadi dimasa datang. Hati menjadi hidup oleh harapan-harapan akan lenyapnya beban di hati. Harapan adalah melihat kegemilangan Ilahi dengan mata keindahan. Harapan adalah kedekatan hati kepada kemurahan Tuhan. Harapan berarti melihat pada kasih sayang Allah Yang Maha Meliputi. Al Ghazali memandang Raja’ sebagai senangnya hati karena menunggu Sang Kekasih datang kepadanya. Khawf dan Raja’ adalah dua kata yang senantiasa bergandengan dan tidak akan terputus, jika terputus bukan Khawf dan Raja’ namanya. Jika seseorang berkata, “Aku berharap terbitnya matahari disaat terbit dan aku takut terbenamnya disaat terbenam.”, ucapan itu menurut Al-Ghozali bukanlah Khawf dan Raja’ karena ada yang terputus. Tapi jika ada yang mengatakan,” Aku berharap turun hujan dan aku takut berhentinya.”, itulah ucapan yang menunjukkan keterpautan Khawf dan Raja’.
Abu Ali Al-Rudzbari  memandang Khawf dan Raja’ seperti sepasang sayap burung. Apalabila takut dan harap keduanya tidak ada, maka si burung akan terlempar ke jurang kematiannya. Raja’ berarti suatu sikap mental optimism dalam memperoleh karunia dan nikmat ilahi yang disediakan bagi hamba-hamba-Nya yang shaleh. Dalam pandangan Al Sarraj, Raja’ merupakan hal yang mulia. Kemuliaan hal ini ditunjukkan dalam firman-Nya,
·        ” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab : 21).
·         Firmannya yang lain
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti”. (QS. Al-Isra’ : 57)
Menurut Al-Sarraj Raja’ terdiri atas tiga bagian :
a.       raja’ bersama Allah (fi Allah)
b.      raja’ di dalam luasnya rahmat Allah (fi sa’ati rahmat Allah)
c.       raja’ di dalam pahala Allah (fi tsawab Allah).


        2.2.4 Al-Syauq
      Syauq bermakna lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Para ahli sufi menyatakan bahwa syauq merupakan bagian dari mahabbah. Sehingga pengertian syauq dalam tasawuf adalah suasana kejiwaan yang menyertai mahabbah. Rasa rindu ini memancar dari kalbu karena gelora cinta yang murni. Untuk menimbulkan rasa rindu kepada Allah maka seorang salik terlebih dahulu harus memiliki pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah. Jika pengetahuan dan pengenalan terhadap Allah telah mendalam, maka hal tersebut akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang akan menimbulkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu, rasa rindu untuk selalu bertemu dan bersama Allah.
      Secara literal, syauq berarti lepasnya jiwa dan bergeloranya cinta. Menurut Suhrawardi, syauq merupakan bagian-bagian dari mahabbah, seperti halnya zuhud bagian dari tobat. Jika mahabbah sudah mantab akan tampak pula syauq. Menurut Abu Utsman siapa yang cinta kepada Allah dia akan merindu hendak berjumpa dengan-Nya. Rasa rindu tak mungkin ada pada yang mencinta. Sementara itu, Dzunun memandang  syauq sebagai derajat atau maqom tertinggi. Jika sang hamba sudah mencapai derajat Syauq ini mati rasanya mudah dan ringan karena kerinduan kepada Tuhannya dan harapan hendak berjumpa dengan-Nya.
Pengetahuan dan pengenalan yang mendalam terhadap Allah akan menimbulkan rasa senang dan gairah. Rasa senang dan bergairah melahirkan cinta dan akan tumbuh rasa rindu. Rindu ingin bertemu, hasrat akan selalu bergelora agar selalu bersama Dia. Di setiap denyutan jantung, detak kalbu, dan desah nafas, serta ingatan hanya kepada Allah, itulah Syauq (rindu).
Menurut Al Sarraj orang yang merindu itu terbagi atas tiga golongan.
a.       pertama adalah mereka yang merindu kepada janji Allah atas para kekasih-Nya tdntang pahala, karamah, keutamaan, dan keridlaan-Nya.
b.      Kedua, mereka yang rindu kepada kekasihnya karena cintanya yang mendalam dan bersemayamnya rindu itu hendak bertemu dengan kekasihnya.
c.       Ketiga, mereka yang menyaksikan kedekatan Allah terhadap dirinya, Allah senantiasa hadir tidak pernah pergi, maka hatinya merasa senang walau hanya menyebut nama-Nya saja.

        2.2.5 Al-Uns
      Dalam tasawuf ‘Uns berarti keakraban atau keintiman menurut Abu Sa’id Al Kharraj ‘Uns adalah perbincangn roh dengan Sang Kekasih pada kondisi yangs sangat dekat. Dzunun memandang ‘Uns sebagai perasaan lega yang melekat pada sang pencinta terhadap Kekasihnya. Salah seorang pemuka thabi’in menulis surat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz,”Hendaknya keakrabanmu hanya dengan Allah semata dan putuskan hubungan selain dengan-Nya.”.  Menurut Al-Sarraj, ‘Uns bersama Allah bagi seorang hamba adalah ketika sempurna kesuciannya dan benar-benar bening zikirnya serta terbebas dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.
Orang-orang yang intim itu terbagi atas tiga tingkatan.
Pertama, mereka yang merasa intim dengan sebab zikir dan jauh dari kelalaian, merasa intim dengan sebab ketaatan dan jauh dari dosa.
Kedua, Ketika sang hamba sudah sedemikian intim bersama Allah dan jauh dari apapun selain-Nya, yakni pengingkaran-pengingkaran dan bisikan-bisikan yang menyibukkannya.
Ketiga adalah hilangnya pandangan tentang ‘Uns karena ada rasa segan, kedekatan dan keagungan bersama ‘Uns itu sendiri. Maksudnya sang hamba sudah tidak melihat ‘uns itu sendiri.
        2.2.6 Al-Tuma’ninah
      Secara bahasa tuma’ninah berarti tenang dan tentram. Tidak ada rasa was-was atau khawatir, tak ada yang dapat mengganggu perasaan dan pikiran karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Menurut al-Sarraj tuma’ninah sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya dan bersih ingatannya. Seseorang yang telah mendapatkan hal ini sudah dapat berkomunikasi langsung dengan Allah SWT.
      Secara literal, Thuma’ninah berarti tenang tentram, tidak ada perasaan khawatir atau was-was, tak ada yang dapat ,mengganggu perasaan dan pikiran, karena ia telah mencapai tingkat kebersihan jiwa yang paling tinggi. Thuma’ninah menurut Al-Sarraj adalah hal yang paling tinggi.  Thuma’ninah bagi sang hamba berarti kuat akalnya, kuat imannya, dalam ilmunya, bersih ingatannya dan kokoh realitasnya (haqiqat). Beberapa firman Allah tentang Thuma’ninah, diantaranya:
·         
”Ya” (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.”(QS. Al-Ra’du:28)
·       

“Wahai jiwa yang tenang”(QS. Al-Fajr:27)
Thuma’ninah terbagi menjadi 3 tingkatan.
Pertama adalah kaum awam. Mereka merasa tenang jika menyebut-Nya.
Kedua, Kelompok khushus(khusus). Mereka tenang karena rela dengan ketetapan-Nya, sabar dengan , musibah-Nya, bertakwa, ikhlas, dan damai.
Ketiga, kelompok istimewa (khusus al khusus) mereka mengetahui bahwa rahasia-rahasia yang ada pada mereka tidak akan mampu membuat tenang kepada-Nya, karena rasa agung dan segan yang hinggap dihati mereka. Menurut mereka, Allah tidak memiliki akhir yang mungkin dicapai.
       
2.2.7 Al-Musyahadah
Musyahadah adalah nampaknya Allah pada hambanya dimana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam beribadah, kecuali hanyalah menyaksikan dan meyakini dalam hatinya, bahwa ia hanyalah berhadapan dan dilihat oleh Allah SWT. Dalam beribadah ia tidakmenghiraukan lagi terhadap sesuatu yang disekelilingnya, termasuk dirinya sendiri karena asyiknya berhubungan dengan Allah seakan-akan Allah benar-benar nampak dihadapannya.
      Seorang akan dapat mencapai musyahadh billah, jikalau ia melakukan mujahadah fil amal dan sebelumnya telah mencapai maqam fana’ atau memunafikkan tujuan lain selain daripada Allah. Ibadahnya hanya semata-mata ditujukan dan dihadapkan kepada Allah dan sama sekali bebas dari unsur riya’.
      Adapun terjadinyamusyahadah adalah dengan adanya nur musyahadah yang terpancar dalam hati seseorang. Dan terjadinya musyahadah ini melalui tiga tahap yaitu :
a.       Nur musyahadah pertama, adalah yang membukakan jalan dekat kepada Allah. Tanda-tandanya ialah seorang merasa muraqabah/ berintaian dengan Allah.
b.      Nur musyahadah kedua, adalah tampaknya keadaan “adamiah”  yakni hilangnya segala maujud, lebur kedalam wujud Allah dan baginyalah wujud yang hakiki.
c.       Nur musyahadah ketiga yakni tampaknya Dzatullah yang maha suci. Dalm hal ini bila seorang telah fana’ sempurna, yaitu diantaranya telah lebur dan yang baqa’ hanyalah wujud Allah.
      Musyahadah ini masuk pada hati seorang hamba Allah yang telah melakukan mujahadah fil ibadah dengan cara memfana’kan diri terlebih dahulu, mengikhlaskan dirinya dalam beribadah dan menghilangkan sifat-sifat yang menjadi penghalangnya musyahadatur rabbaniyah. Karena itu ada pula yang mengatakan bahwa musyahadah bisa dicapai melewati pintu mati.
      Selanjutnya jalan yang ditempuh untuk sampai pada musyahadah dengan Allah melalui pintu mati(dalam pengertian matinya nafsu untuk hidupnya hati)dapat ditempuh pada 4 tingkat yaitu :

1.      Mati tabi’i
      Menurut sebagian ahli thariqat, bahwa mati thabi’i terjadi dengan karunia Allah pada saat dzikir qalbi didalam dzikir lathaif. Dan mati tabi’i ini merupakan pintu musyahadah pertama dengan Allah.
2.      Mati ma’nawi
Menurut sebagian ahli thariqat bahwa mati ma’nawi ini terjadi dengan karunia Allah pada seseorang salik saat melakukan dzikir Lathifatur Ruh dalam dzikir lathifatur Ruh dalam dzikir lathaif. Terjsdinya itu sebagai ilham yang tiba-tiba nur Ilahi terbit dalam hati. Ketika itu penglihatan secara lahir menjadi hilang lenyap dan mata batin menguasai penglihatan.
3.      Mati suri
Mati suri ini terjadi dengan karunia Allah pada saat seseorang salik melakukan dzikir lathifatus sirri dalam dzikir lathaif. Pada tingkat ketiga ini, seorang salik telah memasuki pintu musyahadah dengan Allah. Ketika itu segala keinsanan lenyap/fana’ alam wujud yang gelap telah ditelan oleh alam ghaib/alam malakut yang penuh dengan nur cahaya. Dalm pada ini yang baqa’ adalah nurullah, nur shifatullah, nur asmaullah, nur dzatullah dan nurun ala nurin.

4.      Mati hissi
Mati hissi terjadi juga karena karunia Allah pada saat seseorang/salik melakukan dzikir lathifatul hafi dalam dzikir lathaif. Pada tingkat keempat ini, seorang atau salik telah sampai pada tingkat yang lebih tinggi untuk mencapai ma’rifat sebagai maqam tertinggi.
Untuk mencapai keadaan musyahadah seperti tersebut diatas adalah dengan mujahadah, niscaya Allah akan memperbaiki sirnya/hatinya dengan musyahadah. Apabila seseorang telah mendapatkan karunia Allah dengan musyahadah, maka dengan sendirinya akan lenyaplah segala hijab dari sifat-sifat basyariah, nampaknya Allah atau tajalli.
        2.2.8 Al-Yakin
    Al-yaqin berarti perpaduan antara pengetahuan yang luas serta mendalam dan rasa cinta serta rindu yang mendalam pula sehingga tertanamlah dalam jiwanya perjumpaan secara langsung dengan Tuhannya. Dalam pandangan al-Junaid yaqin adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah dan tidak berubah. Menurut al-Sarraj yaqin adalah fondasi dan sekaligus bagian akhir dari seluruh ahwal. Dapat juga dikatakan bahwa yaqin merupakan esensi seluruh ahwal .
Perpaduan antara pengetahuan yang luas dan mendalam dengan rasa cinta dan rindu yang bergelora bertaut lagi dengan perjumpaan secara langsung, tertanamlah dalam jiwanya dan tumbuh bersemi perasaan yang mantap, Dialah yang dicari itu. Perasaan mantapnya pengetahuan yang diperoleh dari pertemuan secara langsung, itulah yang disebut dengan Al Yaqin. Yaqin adalah kepercayaan yang kokoh tak tergoyahkan tentang kebenaran pengetahuan yang ia miliki,   karena ia sendiri menyaksikannya dengan segenap jiwanya.
Keyakinan menurut Al Sarraj merupakan hal yang tinggi. Ia adalah pondasi dan sekaligus bagian akhir serta pangkalan terakhir dari seluruh ahwal. Dengan kata lain seluruh ahwal terletak pada keyakinan yang nampak (Zahir) Puncak dari keyakinan ini diisyaratkan Allah dalam firman-Nya.

”Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda”. (QS. Al Hijr : 75).
”Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang yakin.” (QS. Al-Dzariyat :20)
Lebih  lanjut menurut Al sarraj seluruh ayat-ayat Allah yang berbicara mengenai yaqin sesungguhnya terdiri atas tiga hal : Ilm Al-yaqin, ‘ain Al yaqin, dan haq Al yaqin. Al Junaid berpandangan bahwa keyakinan adalah tetapnya ilmu di dalam hati, ia tidak berbalik, tidak berpindah, dan tidak berubah. Karena tetapnya keyakinan ini, nabi pernah bersabda,”Sekalian makhluk nanti akan dibangkitkan sesuai dengan keadaan mereka ketika mati.” Maksudnya sesuai dengan keyakinan mereka ketika mati.




BAB IV
KESIMPULAN

            Banyak orang mukmin yang sudah beribadah dengan baik kepada Allah SWT tetapi mereka belum bisa khusyu’ dalam ibadahnya karena keadaan jiwa mereka belum tenang atau stabil, sedangkan agar kita bisa dekat kepada Allah SWT adalah kejiwaan kita haruslah tenang. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia pasti merasakan apa yang namanya keadaan mental seperti senang, sedih, perasaan takut dan sebagainya, tetapi kita tidaklah boleh terlalu terhanyut di dalam keadaan tersebut karena kita harus segera merubahnya menjadi lebih baik.
            Selain itu kita haruslah mencontoh sifat sufi yang selalu melatih sifat mentalnya dengan cara riyadlah yang berarti latihan mental, mujahadah yaitu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah Allah, uzlah yaitu mengasingkan diri dari pengaruh keduniawian, muraqabah mendekatkan diri kepada Allah. Setelah itu adalah suluk yang berarti menjalankan cara hidup seperti sufi yaitu berdzikir dan berdzikir.
            Meski para sufi berbeda pendapat mengenai pengertian ahwal secara luas, perlu dipertegas disini bahwa menurut al-Sarraj, hal adalah anugerah (mawahibah) Allah yang diberikan kepada sang hamba sebagai hasil dari usaha dan perjuangannya di dalam menempuh maqamat. Maqam diusahakan, sementara hal tidak. Maqam sifatnya tetap dan permanen, sedangkan hal tidak tetap, datang dan pergi.
Dalam macamnya, terdapat beberapa macam Ahwal yang diantaranya, Muuraqabah, Khawf, Raja’, Syauq, ‘Uns, Thuma ‘Ninah, Musyahadah, Yaqin yang dimana pada setiap macamnya memiliki tingkatan masing-masing.














DAFTAR PUSTAKA

  • Azis, Saifullah, 1998, Risalah Memahami Ilmu Tasawuf,  Surabaya: Terbit Terang.
  • Nata, Abuddin, 1996, Akhlak Tasawuf,  Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
  • Toriqudin, Mohammad, 2008, Sekularitas tasawuf, Malang: UIN-MALANG PRESS.
  • Syukur, Amin, 2003, Tasawuf  kontekstual, Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.
  • Zahri, Mustafa, 1995, Kunci Memahami Tasawuf, Surabaya: Bina Ilmu.
  • Suhrawardi Syekh Syihabuddin Umar, 1998, Awarif al-Ma’arif., (ter. Edisi Indonesia Oleh Ilma Nugraha ni Ismail), Bandung: Pustaka Hidayah.
  • Solihin, M, 2001, Sejarah dan Pemikiran Tasawuf di Indonesia, Bandung: Pustaka Setia.
  • Kartanegara, Mulyadi. 2006. Menyelami Lubuk Tasawuf.  Jakarta: Erlangga.
  • Bahri, Media Zainul. 2005. Menembus Tirai Kesendiriannya. Jakarta: Prenada.
  • Haeri, Syekh Fadhlalla. 2003. Dasar-Dasar Tasawuf.  Yogyakarta: Pustaka Sufi.
  • Shihab, Alwi. 2001. Antara Tasawuf Sunni dan Falsafi dalam Islam
  • Sufistik dan Pengaruhnya Hingga Kini. Bandung: Mizan.
  •  
  • Syukur, Amin. 1999. Menggugat Tasawuf; Sufisme dan Tanggung Jawab Sosial.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  •  


[1] Syihabuddin Umar Suhrahwardi, ‘Awarif al-Ma’arif, Op. Cit, h. 109.
[2] Syihabuddin Umar Suhrahwardi, ‘Awarif al-Ma’arif, Op. Cit, h. 111.
[3] Azis Saifulah, risalah memahami ilmu tasawuf, (Surabaya:terbit terang),hlm.200.
[4] Mengenal Allah swt.
[5] Disarikan dari Kitab Mukhtashar Minhaajul Qaasidiin, Syaikh Ahmad bin Abdirrahman bin Qudamah al-Maqdisiy rahimahullah. Dan HR Abu Daud 904, Turmudzi dalam Syamaa’il 305, al-Baghawiy 729, Ahmad 4/25-26.

1 komentar: